=====================================
==========================
========================================





you want another language?

Saturday, June 27, 2009

Mari ke Yunani

Pagi yang cerah, kapal ditumpangi berlabuh di pelabuhan kecil di pantai Yunani sebelah selatan setelah bertolak sehari semalam dari Brindisi, Italia. Kapal yang membawa kita cukup penuh dengan penumpang dari ber bagai bagai bangsa dan rata rata adalah pasangan pasangan muda yang sedang berlibur. Memang pada masa itu adalah musim panas yang menjadi musim liburan di Eropa. Setelah mendarat, kita menuju ke stasiun kereta api, dan kemudian naik kereta api menuju Athena, ibu kota Negara Yunani. Banyak yang menarik perhatian kita sepanjang perjalanan itu. Kereta api yang kita naiki bukan kereta api mewah tapi cukup baik dan semua tempat duduk terisi penuh. Sepanjang perjalanan menuju Athena, melihat hampir semua rumah penduduk diperlengkapi dengan alat ‘solar cell’ yang dipasang di atap atap rumah mereka. Cuaca panas dengan matahari menyerlah di siang itu menambah keyakinan akan manfaat alat ‘solar cell’ ini. Para penjaja makanan menawarkan makanan dagangan nya kepada para penumpang kereta api di setiap stasiun dimana kereta api ini berhenti, bahkan ada yang masuk kedalam gerbong kereta apabila kereta api berhenti cukup lama di stasiun. Keadaan ini mengingatkan pada suasana kereta api ditanah air kita. Secara sepintas, keadaan perekonomian di negeri ini pada masa itu kelihatan nya cukup baik. Menjelang petang, kereta api yang kami tumpangi masuk stasiun pusat yang terletak di pusat kota Athena. Stasiun kereta api pusat di kota Athena kelihatan modern sebagaiman layak nya terlihat pada stasiun stasiun kereta api di kota kota Eropa lain nya. Fasilitas dalam stasiun ini diperlengkapi dengan locker locker tempat penyimpanan barang barang penumpang yang akan menginap di Athena untuk waktu singkat. Kita mandi dengan sistim pancuran di stasiun kereta api di Vienna, dimana stasiun ini juga mempunyai salon rambut bagi mereka yang ingin langsung tampak kemas atau akan menghadiri suatu undangan. Athena, adalah kota yang penuh dihiasi dengan bangunan bangunan kuno peninggalan zaman Romawi kuno dengan rekabentuk pualam nya yang amat megah. Tidak mengherankan banyak turis manca negara berkunjung kesana untuk melihat peninggalan peninggalan bersejarah ini. Disinilah berdiri kuil raksasa Parthenon yang terbangun dari pilar pilar pualam yang berdiri kokoh di puncak bukit itu. Secara sepintas budaya Turki memberikan pengaruh pada kehidupan rakyat di Athena, kami lihat di beberapa kedai orang orang menggunakan tulisan Arab sebagai bahasa pengantar mereka. Dalam peta, memang Negara Yunani yang sering disebut sebagai tanah ‘Greek’ ini terletak berdampingan dengan Negara Turki. Athena, kota tempat asal pertandingan Olympiade itu memang tetap menarik sepanjang masa dan patut dikunjungi.


Bersambung…………….

Mari ke Venezia

Barangkali para pembaca masih ingat akan lagu ‘Carnival of Venice’ yang terkenal itu ? Atau kepada si Marcopolo pedagang asal Venezia yang melanglang buana ke negeri China di abad ke 13. Venezia memang unik, hampir 90 % kota ini dibangun diatas air maka kota ini sering mendapat julukan ‘kota air’. Pagi cerah dimusim panas kami tiba di Venezia, setelah naik kereta api semalaman dari Rome, ibu kota Italia. Pada mula nya di Roma, kami ingin bertolak ke Sicilia yang terkenal dengan kota nya ‘godfather’. Setelah lama berunding, kami akhirnya batal ke Sicilia di Italia selatan, mengingat kami tidak paham akan daerah itu dan mungkin juga kena sugesti dari cerita cerita seram di film. Memang pada umumnya orang Italia panas baran, dan juga kadang kadang menipu orang asing, ini berdasarkan pengalaman kami ketika berada disana, tetapi banyak juga yang baik hati. Kendaraan umum sehari hari di Venezia adalah gondola dan taksi. Gondola adalah perahu dayung dan taksi adalah ‘motorboat’ yang bergerak cepat. Dari satu tempat ke tempat lain di Venezia kami harus naik ‘kendaraan air’ itu, tak ada pilihan lain untuk jalan jalan di Venezia. Gondola akan menyusuri sepanjang kanal kanal Venezia yang melintasi bangunan bangunan dengan gaya Renaissance yang sangat artistik itu. Yang menarik perhatian kami ialah bahwa kota ini telah ada sejak abad ke 12 dan bangunan bangunan di kota itu tetap berdiri tegap dan kokoh, tidak terkikis oleh genangan air selama berabad abad. Bayangkan, kalau Jakarta ibu kota Negara kita pernah mengalami banjir sampai hampir 70 % kawasan nya tergenang air selama beberapa hari saja diawal tahun 2007 dimana banyak bangunan mengalami kerusakan akibat banjir, maka berbeda dengan Venezia, konstruksi bangunan bangunan di Venezia dibuat sedemikian rupa sehingga tetap utuh selama berabad abad dalam genangan air yang cukup tinggi. Sudah sampai saatnya kita harus belajar tentang teknologi bahan bangunan dari Venezia ini. Kemudian cobalah bandingkan dengan teknologi bendungan di Negara Kincir Angin yang membuat sebagian kota Amsterdam berada dibawah permukaan air laut. Suatu saat kami pernah melihat sebuah film di layer kaca, diatas jembatan melintas kapal laut, sedangkan terowongan dibawah jembatan penuh dengan mobil mobil lalu lalang. Memang tak dapat dipungkiri, para teknolog Belanda sangat mahir dengan ilmu bendungan nya, sesuatu yang boleh kita ambil pelajaran dari padanya. Sisi lain yang unik dari Venezia adalah keadaan masyarakatnya. Kami pernah melihat di sebuah kedai, harga seporsi piring berisi macaroni bersaus tomat, masakan Italia yang terkenal itu, tercantum 900 Lira Itali yang tulisan nya jelas terpajang besar didepan piring macaroni. Ketika kami akan pesan, kami bertanya lebih dulu kepada pelayan disitu, berapa harga seporsi macaroni yang ada dalam kotak kaca tadi. Tanpa ragu si pelayan menjawab 5000 Lira Itali, lalu kami tunjukkan tulisan didepan piring itu yang mencantumkan harga 900 Lira Itali, namun si pelayan tidak memberi komentar hanya memberi respon dengan tersenyum saja. Pada kesempatan lain ketika kami sedang makan di sebuah restoran, kami melihat sekumpulan anak anak muda Amerika duduk di meja makan sambil bertengkar dengan pelayan soal pembayaran selesai makan karena ternyata kertas tissue yang mereka gunakan juga dikenakan tarif padahal tidak ada tertulis dalam daftar. Itulah salah sudut keunikan Venezia yang cantik itu.

Bersambung…………………………

Mari ke Shen Zhen

Siang itu kami tiba di Shen Zhen setelah naik kereta api komuter kira kira satu jam perjalanan dari Hong Kong. Kereta komuter yang kami tumpangi sangat cepat dan bersih, dan setelah melewati loket imigrasi kami tiba di tepi stasiun kereta api Shen Zhen. Untuk masuk Shen Zhen dari Hongkong kami memerlukan ‘on arrival visa’ yang langsung bisa diperoleh di imigrasi Shen Zhen untuk tinggal selama 5 hari setelah membayar 150 dollar HK pada masa itu apabila kami tidak punya visa Cina daratan dari Hong Kong. Udara sejuk musim dingin di bulan Januari itu terasa menusuk sampai ke tulang sumsum. Rencana kami mencari hotel Muslim yang ada di Shen Zhen atas petunjuk kawan di Hong Kong, tetapi sayang nya kami lupa membawa alamat hotel itu, disamping itu supir taksi dan orang orang disekitar kami tidak paham akan maksud kami. Pengalaman kami di Shen Zhen adalah kami mengalami kesukaran berkomunikasi dengan penduduk tempatan karena mereka tidak paham bahasa Inggris sedangkan kami pun buta aksara Cina dan tidak paham bahasa Mandarin. Sungguh menyedihkan keadaan kami pada waktu itu, yah… kami merasa sangat lapar, dingin sekali, mondar mandir cari hotel yang cocok untuk menginap, semuanya disebabkan karena kesulitan dalam faktor bahasa. Akhir nya kami mendapatkan hotel yang lumayan bagus dekat stasiun kereta api itu dengan harga relative tidak mahal, bandingkan dengan hotel yang sejenis di Hong Kong yang mungkin tarif nya bisa mencapai 3 sampai 4 kali lipat. Sore hingga malam hari kami berjalan jalan di Shen Zhen dan ternyata dugaan kami tentang Shen Zhen sebagai kota yang masih ketinggalan zaman adalah sangat keliru. Shen Zhen adalah kota besar dan sangat modern yang penuh dengan bangunan bangunan pencakar langit dan tidak kalah dari Hong Kong. Secara sepintas kami tidak pernah menjumpai pengemis di Shen Zhen ini, semua orang Cina kami lihat berjalan tergesa gesa pagi itu, dan mereka adalah pekerja keras. Pemandangan seperti ini terlihat lebih menonjol ketika kami singgah di Guangzhou yang jarak nya kurang lebih 2 jam naik bus dari Shen Zhen melewati jalan raya. Pengalaman lucu ketika kami makan di restoran Muslim di Shen Zhen, pelayan yang tidak paham bahasa Inggris terpaksa berkomunikasi dengan kami menggunakan bahasa isyarat disertai dengan peragaan contoh contoh makanan yang ingin kami pesan. Di Guangzhou, kami mengunjungi tempat shopping dekat terminal bus antar kota yang penuh sesak dengan manusia. Tidak pernah kami melihat sebelumnya begitu banyak manusia hilir mudik seperti di Guangzhou ini. Harga barangan kulit seperti tas, sepatu, koper,dll, dan pakaian jadi rata rata lebih murah dari pada di Negara kita dengan kualitas sedang. Disini barang barang boleh ditawar, kawan kami yang sangat pandai menawar dengan memakai kalkulator boleh mendapatkan barangan dengan harga cukup murah. Di Guangzhou kami melihat ada los los yang sangat luas penuh sesak dengan tempat jualan aneka rupa jam, mulai dari jam tangan, jam kalung yang pakai rantai, jam meja, dan juga jam dinding dengan harga sangat murah, namun kami tidak berani menyebutkan kualitas barang nya. Sepintas kami melihat bahwa kehidupan masyarakat Guangzhou di pusat kota itu adalah dari berdagang, seperti juga penduduk Hong Kong yang umum nya adalah para peniaga. Dari pengalaman kami di dua kota besar di Cina daratan yaitu Shen Zhen dan Guangzhou, rata rata masyarakat nya tidak paham bahasa Inggris walaupun mereka kelihatan mapan dan maju. Berbeda dengan Hong Kong, penduduk Hong Kong umum nya paham bahasa Inggris dan kami tidak takut tersesat di Hong Kong. Bayangkan, Hong Kong sebagai kota yang dibangun di atas beberapa pulau yang hanya terdiri dari batu batu karang, tetapi berkembang pesat menjadi salah satu kota termaju dan termodern di dunia. Apa yang bisa ditawarkan kepada para investor dengan ada nya tanah tandus dan ber batu karang, selain dunia bisnis dan perdagangan ? Bagaimanakah dengan Negara kita yang kaya alam flora dan fauna, kaya tambang mineral, mampukah kita maju menjadi seperti Hong Kong dimasa yang akan datang ? Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa etos kerja orang Mandarin ini lah yang sangat sukar untuk diikuti langkah langkah nya oleh bangsa kita. Rata rata penduduk Cina di Hong Kong lebih modern dan maju dibandingkan dengan saudara saudara nya yang tinggal di Cina daratan. Kalau kita tinggal lebih lama di Hong Kong akan terlihat jelas bahwa ada perbedaan pola budaya antara kaum Cina Hong Kong dan kaum Cina daratan. Kesan kami dari kunjungan kami ke ketiga kota besar, yaitu Shen Zhen, Guangzhou dan Hong Kong, maka kami boleh menyimpulkan bahwa Cina punya masa depan yang hebat yang sejak sekarang sudah ditakuti dan diperhitungkan kemampuan nya oleh Negara Negara Barat. Kapankah bangsa kita mengikuti langkah langkah Cina di bidang ekonomi dan teknologi ?

Bersambung……………………..